#navbar-iframe { height:0px; visibility:hidden; display:none }

Kamis, 16 Agustus 2012

Pesantren Ramadhan 1433 H SMPN 17 Bandung



Spanduk Pesantren Ramadhan 1433 H dibentangkan digedung SMPN 17 Bandung

Pada hari  Senin tanggal 13 Agustus 2012 SMPN 17 Bandung memulai pelaksanaan Program Tahunan Pembinaan Imtaq berkenaan dengan bulan suci Ramadhan 1433 H  dengan sebutan Pesantren Ramadhan. Pada penyelenggaraan pesantren Ramadhan 1433 H di SMPN 17 Bandung mengambil tema "Membangkitkan Nilai-Nilai Religius, Mencintai Ilmu, Berakhlakul Karimah", dengan pemateri para asatidz unsur kampus dalam hal ini bekerja sama dengan PPL UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan para asatidz unsur masyarakat. Kegiatan pesantren ini selain dimaksudkan untuk membentuk generasi yang memiliki akidah yang lurus (Salimul Aqidah), beribadah sesuai petunjuk Rosulullah (Shahihul Ibadah), memiliki akhlak yang kuat (Matinul khuluq), serta memiliki wawasan keislaman yang luas (Mutsaqqaful Fikri), juga peserta pesantren diajak untuk memperbanyak infaq shodaqoh, sehingga diharapkan mereka memiliki karakter jiwa sosial mau dan mampu berbagi kepada saudara-saudaranya yang kurang beruntung dalam masalah ekonomi.  Kegiatan ini diikuti oleh seluruh sisiwa muslim dari kelas VII, VIII, dan IX.


Acara Pembukaan dipandu oleh H. Aceng Zaenal Mutaqin, S.Ag 

Kegiatan dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh Bapak H. Aceng Zaenal Mutaqin, S.Ag beliau adalah guru PAI SMPN 17 Bandung.  Dilanjutkan dengan pembacaan kalam Ilahi yang dibacakan oleh Bapa Nishfa Rizal beliau adalah Mahasiswa Jurusan PAI UIN Sunan Gunung Djati Bandung.  kemudian dilanjutkan sambutan dari ketua penyelenggara Pesantren Ramadhan 1433 H sekaligus secara resmi membuka kegiatan Pesantren Ramadhan.   Pada sambutannya beliau   menekankan untuk menjadikan Kegiatan Pesantren Ramadhan sebagai sarana peningkatan wawasan keislaman, sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas  akhlak, sebagai sarana untuk meningkatkan tadarus Al Qur’an.


Pembacaan Kalam Ilahi oleh Ustadz Nishfa Rizal


Sambutan Ketua Penyelenggara Pesantren Ramadhan 1433 H Drs. Iwan Kustiawan

 
Setelah acara pembukaan, kegiatan pesantren ramadhan dimulai dengan kegiatan kuliah dhuha yang diisi dengan do'a (mendo'akan kaum muslim, guru-guru dan siswa yang sakit, mendo'akan siswa untuk kelancaran dalam belajar), dzikir Asmaul Husna, tadarus Al Qur'an, kultum, diakhiri dengan sholat dhuha. Sholat dhuha diimami oleh Ustadz Sholahudin Sanusi, S.Ag, dilaksanakan sebanyak dua raka’at. setelah  sholat dhuha, dilanjutkan dengan pembacaan do'a dhuha dan dzikir Al ma'tsurat.  Kegiatan kuliah dhuha dan rangkaian kegiatan lainnya ini dilaksanakan setiap hari sebelum kegiatan pesantren ramadhan dimulai.

 Kuliah dhuha dimulai dengan kultum  oleh Ustadz Sholahudin Sanusi, S.Ag

Ustadz Subur Mahasiswa PPL UIN SGD Bandung memberikan taushiyah pada hari kedua
kegiatan Pesantren Ramadhan


Pembacaan Dzikir Asmaul Husna dipandu oleh Ustadz Ijang Maftuh Sidik, S.PdI


Peserta Pesantren Ramadhan khusyu mengikuti Pelaksanaan Sholat Dhuha berjama'ah



Pembacaan do'a dan Al Ma'tsurat dipandu ustadz Ijang Maftuh Sidik, S.PdI
  
Semoga dengan pelaksanaan kuliah dhuha  menjadikan cikal bakal pembiasaan dalam beribadah kepada siswa. Hal yang paling penting dalam kegiatan ini adalah penanaman pendidikan religius serta pendalaman, pengalaman, dan pengamalan keimanan, ketaqwaan yang lebih terukur dan berhasil nyata.


PESANTREN RAMADHAN 1433 H
 
Program Pembiasaan dan Pembinaan Keimanan dan Ketaqwaan  SMP Negeri 17 Bandung di bulan Ramadhan ini yaitu Pesantren Ramadhan 1433 H. Pesantren Ramadhan tahun ini dilaksanakan di empat tempat, yaitu; lapangan upacara, ruang kelas, ruang multimedia, dan Masjid "Daarul Ulum" SMPN 17 Bandung . Hari pertama sampai dengan hari akhir kegiatan pesantren ramadhan diawali dengan kuliah dhuha dilapangan upacara, dibuka dengan kegiatan kultum, berdo'a, dzikir Asmaul husna, tadarus Al Qur'an, shalat dhuha berjama’ah dilanjutkan membaca do'a dhuha serta dzikir al-ma’tsurat. 
kegiatan pesantren ramadhan yang menggunakan ruang multimedia dan masjid,  materi yang diberikan kepada siswa adalah materi motivasi belajar dan motivasi Islam. Adapun materi pelajaran yang menggunakan ruangan kelas dimulai dengan materi Al Qur'an, Aqidah, Akhlak, dan Fiqh.

















peserta pesantren ramadhan antusias mengikuti kegiatan


Bapak-Ibu wali kelas dengan penuh dedikasi setia mendampingi siswa binaannya


Dalam pesantren Ramadhan ini diakhiri dengan kegiatan bakti sosial 'Ramadhan Berbagi SMPN 17 Peduli' kepada siswa yang kurang mampu, masyarakat sekitar sekolah, serta santunan ke yayasan yatim di Arcamanik dan yayasan yatim Amanah Ummah di Cicukang. Kegiatan bakti sosial tersebut merupakan hasil infaq shodaqoh dari siswa selama kegiatan pesantren ramadhan 1433 H.

Kepala Sekolah memberikan santunan kepada masyarakat 


Kepala Sekolah dan Panitia foto bersama dengan masyarakat penerima santunan







 Ketua Panitia memberikan santunan kepada siswa yang kurang mampu
 



Panitia Pesantren Ramadhan foto bersama dengan siswa penerima
santunan baksos


 ijab qobul infaq shodaqoh di Rumah Yatim Arcamanik


Panitia Pesantren Ramadhan foto bersama dengan perwakilan siswa
dihalaman Rumah Yatim Arcamanik

 ijab qobul infaq shodaqoh di Panti Asuhan Amanah Ummah 


 Panitia Pesantren Ramadhan dan perwakilan siswa foto bersama dengan pengurus dan anak yatim piatu 
Panti asuhan Amanah Ummah

 Panitia Pesantren Ramadhan foto bersama dengan Tim Asatidz PPL UIN SGD Bandung
Guru Pamong SMPN 17 sharing dengan Tim Asatidz PPL UIN SGD Bandung

Program Pesantren Ramadhan di sekolah kami insya Alloh akan dilaksanakan setiap tahun. Untuk tahun depan  kegiatan pesantren ramadhan ini kami rencanakan tidak hanya untuk kalangan siswa tetapi guru dan TU, dengan harapan mudah-mudahan akan mendapatkan tambahan ilmu keislaman melalui kegiatan pesantren ramadhan tersebut. Semoga!!!



Senin, 13 Agustus 2012

Tarhib Romadhon 1433 H SMPN 17 Bandung


TARHIB ROMADHON 1433 H SMP NEGERI 17 BANDUNG
RABU, 18 JULI 2012
 Spanduk menyambut bulan suci  Ramadhan 1433 H dibentang di sekolah (Marhaban Yaa Ramadhan)

Pada hari  Rabu tanggal 18 Juli 2012  kami MGMP PAI bersama seluruh Civitas SMP Negeri 17 Bandung menggelar  program religius berkenaan dengan penyambutan bulan suci Ramadhan yang disebut Tarhib Ramadhan. Pada pelaksanaan tarhib ramadhan 1433 H di SMPN 17 Bandung di pusatkan dilapangan upacara dimulai pada pukul 07.00 WIB, dengan terlebih dahulu dilaksanakan kuliah dhuha. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas VII, VIII dan IX. Kegiatan ini dimaksudkan agar umat islam khususnya warga SMP Negeri 17 mempersiapkan diri dan jiwanya untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan berbagai persiapan yang positif untuk mengisi bulan ramadhan dengan sebaik-baiknya, sehingga terlahir insan yang bertaqwa.
                                                                     Acara Pembukaan

Kegiatan dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh ananda Riska dan Shelfira dari pengurus OSIS.  Dilanjutkan dengan pembacaan kalam Ilahi yang dibacakan oleh ananda Andhika pengurus ekskul GaRIs (Keluarga Remaja Islam) dengan saritilawah dalam dua bahasa Indonesia-Inggris dari Ibu-ibu PPL UIN SGD Bandung, kemudian dilanjutkan pembacaan sholawat oleh ustadz Chandra Mahasiswa PPL UIN SGD Bandung serta sambutan dari ketua OSIS dan Kepala Sekolah. Pada sambutannya kepala sekolah  menekankan untuk menjadikan saat Ramadhan sebagai sarana peningkatan amal ibadah kepada Alloh SWT. sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas  akhlak, sebagai sarana untuk meningkatkan tadarus Al Qur’an. Setelah sambutan dari ketua kepala sekolah, dilanjutkan dengan penampilan Team Karawitan  SMPN 17 Bandung dengan membawakan sebuah lagu karya Bapak Ujang Sunarto, S.Pd, kemudian dilanjutkan penampilan Team Nasyid SMPN 17 Bandung dengan melantukan lagu Ungu ‘dengan nafasmu’

Ustadz Chandra Mahasiswa PPL UIN SGD memimpin pembacaan sholawat
                                             Sambutan Ketua OSIS SMPN 17 Bandung (Cangra Nalika)

                                        Kepala Sekolah berkenan memberikan sambutan dan nasihat 


Team Karawitan menyanyikan lagu ‘Ramadhan Berkah’ Karya Bp Ujang Sunarto, S.Pd (Guru TIK SMPN 17 Bandung)



Team Nasyid SMPN 17 Bandung unjuk kabisa membawakan lagu ‘UNGU’

Setelah penampilan Nasyid dilanjutkan dengan taushiyah oleh tiga penda’wah, perwakilan dari siswa dua orang,
Yaitu Fathiyatulhaq Shafna Salsabila dari kelas VIII D dan Syifa Arifah dari kelas VIII E, serta perwakilan  guru oleh Ustadz Ijang Maftuh Sidik, S.PdI yang juga guru PAI SMPN 17 Bandung sekaligus menutup acara dengan pembacaan Asmaul Husna dan do’a.

                                        Fathiyatulhaq Shafna Salsabila sedang memberikan taushiyah

                                        Syifa Arifah sedang memberikan taushiyah


                                         Ustadz Ijang Maftuh Sidik, S.PdI sedang menyampaikan taushiyah




Siswa SMP Negeri 17 antusias mengikuti rangkain acara tarhib Romadhon.
Kegiatan tarhib  Ramadhan ini bukan hanya berfungsi sebagai media menyambut bulan suci Ramadhan melainkan juga sebagai ajang silaturahim antar peserta didik dan pendidik sekaligus saling ma’af mema’afkan dari segala kekhilafan. selamat melaksanakan ibadah shaum ramadhan semoga Alloh swt mengaruniakan kesempatan untuk mengisi detik-detik ramadhan dengan amal shalih, hingga kita layak menjadi insan yang bertaqwa serta mendapat sertifikat sebagai alumni ramadhan yang terbaik. 

Sabtu, 11 Agustus 2012

Keutamaan Shaum Romadhon

Keutamaan Bulan Ramadhan

Oleh: Ustadz Aam Amirudin

(Catatan:  Materi ini diambil dari sumber aslinya buku 'Bedah Masalah Kontemporer Jilid II Ibadah dan Muamalah' karya Al-Ustadz Aam Amirudin).


Tiada kata yang dapat mewakili rasa bahagia saat Ramadhan tiba, kecuali ucapan hamdalah ( Segala puji milik-Mu ya Allah, Engkau masih memberikan umur kepadaku untuk menikmati bulan yang penuh barakah dan ampunan ). Sejumlah kaum Muslimin menyambutnya dengan menggelar sejumlah kegiatan keislaman, seperti tablig akbar, bazar, dll. Hal ini wajar, mengingat betapa besar keutamaan bulan Ramadhan.

“Jika masuk bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” ( HR Bukhari ).

Dibuka pintu-pintu surga, maksudnya ibadah pada bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Kalau kita mengisinya secara optimal, akan terbuka lebar pintu-pintu surga, otomatis pintu neraka pun tertutup karena peluang maksiat berkurang. Dengan demikian, setan pun terbelenggu karena banyak umat yang meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Akhirnya, dosa-dosa berguguran dan insya Allah kita akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya,

“Barangsiapa shaum Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” ( HR Ahmad dan Bukhari ).

Shaum Ramadhan diwajibkan satu setengah tahun setelah hijrah. Ketika itu Nabi saw baru diperintahkan mengalihkan qiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Shaum, secara etimologi bermakna menahan diri dari sesuatu, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Menurut definisi ahli fikih, shaum berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.
 

Hikmah Ramadhan

Apabila Allah swt mewajibkan sesuatu kepada manusia, pasti ada hikmahnya. Kalau kita cermati, paling tidak ada lima hikmah diwajibkannya shaum Ramadhan:

1. Menghapuskan Dosa-dosa Kecil

Sebagai manusia, kita tak pernah lepas dari kesalahan, kekeliruan, dan kemaksiatan. Tidak ada manusia yang steril dari dosa, kecuali para nabi yang ma’shum ( terpelihara dari perbuatan dosa ). Shaum Ramadhan merupakan sarana untuk menghapuskan dosa. Kalau kita diberi umur dan kesehatan untuk melaksanakan shaum Ramadhan tahun ini, shaum yang kita lakukan menjadi penghapus dosa-dosa kecil setahun ke belakang, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “… Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan kesalahan-kesalahan di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR Muslim)

2. Melatih Muraqabah
Muraqabah artinya kondisi psikis ( jiwa ) yang selalu merasa ditatap, dilihat, dan diawasi Allah swt. Seorang pelajar atau mahasiswa yang muraqabah tidak akan menyontek walaupun tidak diawasi. Seorang karyawan yang muraqabah tidak akan korup walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. Ketika shaum, kalau belum tiba waktu berbuka, kita tidak berani makan atau minum walau tidak ada seorang pun yang melihat kita, padahal makanan dan minuman tersedia. Jelaslah bahwa shaum menjadi ajang latihan muraqabah.

3. Melatih Pengendalian Nafsu

Manusia memiliki tiga nafsu ( dorongan) yang selalu berkompetisi ( bersaing ), yaitu nafsuAmarah, Lawwamah, dan Muthmainnah.

Nafsu Amarah adalah dorongan untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan. Manusia paling saleh pun memiliki dorongan ini, karenanya sudah dipastikan tidak ada manusia yang steril dari dosa.

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang suka mengoreksi saat kita melakukan dosa atau kemaksiatan. Kalau kita melakukan kemaksiatan, berbohong misalnya,coba siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan tersebut salah ? Diri kita sendiri kan ? Inilah yang disebut nafsu lawwamah. Bersyukurlah bila kita masih merasa bersalah kalau melakukan dosa, ini menunjukkan nafsu lawwamah-nya masih berfungsi. Kalau kita sudah tidak merasa bersalah lagi saat berbuat maksiat, ini menunjukkan nafsulawwamah-nya sudah tidak peka, bahkan mungkin tidak berfungsi lagi.

Nafsu Muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tentram kalau melaksanakan aturan-aturan Allah. Manusia yang paling bejat di muka bumi ini pun memiliki nafsu muthmainnah, karenanya sebejat-bejatnya orang pasti dia pernah berbuat kebaikan. Manusia hakikatnya haniif ( cenderung pada kebaikan ), karena itu manusia akan merasa tenang , tentram, dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan, serta merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pelanggaran dan dosa.

Ketiga macam nafsu di atas, Ammarah, Lawwamah, dan Muthmainnah selalu bersaing. Apabila nafsu muthmainnah memenangkan persaingan, akan lahir perbuatan baik. Kalau nafsu amarah yang menang ( dominan ), akan lahir perbuatan dosa. Jadi, shaum melatih jiwa agar bisa mengendalikan nafsu amarah, bahkan bisa menundukkannya, sehingga yang dominan dalam diri kita adalah nafsu muthmainnah. Dengan demikian, yang terlahir dalam ucapan dan perbuatan kita hanyalah hal-hal yang baik, benar, dan diridhai Allah swt.

4. Menajamkan Kepekaan Sosial

Shaum bisa menjadi ajang latihan kepekaan sosial, sebab dalam waktu tertentu ( sejak terbit fajar hingga terbenam matahari ) kita dilarang makan atau minum, sehingga bisa merasakan lapar. Sesungguhnya hal ini harus kita proyeksikan pada nasib sebagian saudara kita yang kurang beruntung. Di antara mereka ada yang hanya mampu makan sekali dalam satu hari atau bahkan hanya satu kali dalam dua hari.

Dengan latihan ini, diharapkan kita menjadi lebih tanggap pada penderitaan orang lain. Ingat sabda Rasul saw bahwa belum dikategorikan sempurna iman seseorang kalau tidur dalam keadaan kenyang padahal dia tahu tetangganya tidak bisa tidur karena lapar.

5. Menyehatkan Badan

Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa usus manusia – juga organ-organ yang berkait dengannya – dalam tempo tertentu perlu dikurangi beban kerjanya. Shaum merupakan sarana untuk mengurangi beban kerja organ-organ tersebut. Sungguh benar apa yang disabdakan Rasul saw , “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat”. ( HR Abu Daud )
Cara Pelaksanaan

Agar hikmah shaum ini bisa kita raih, kita harus memahami teknik pelaksanaan shaum Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah saw.
1. Tabyit

Tabyit artinya mempersiapkan diri pada malam hari untuk melakukan sesuatu esok hari. Tabyit sering disamakan dengan niat. Rasulullah saw memerintahkan agar tabyit ( niat) pada malam harinya untuk melakukan shaum pada esok hari.

“Barangsiapa yang tidak tabyit ( niat ) untuk shaum sebelum fajar, tidak ada shaum baginya.” ( HR Daruquthni )

“Barangsiapa yang tidak membulatkan niatnya untuk shaum sebelum fajar, tidak sah shaumnya.” ( HR Ahmad dan Ash-Habus Sunan, dan dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban )

Kebiasaan pada masyarakat kita, niat itu diucapkan dengan cara dibimbing, biasanya diucapkan selesai melakukan shalat tarawih, Nawaitu shauma ghadin … dst. Sesungguhnya niat puasa tidak diucapkan pun hukumnya sah, karena niat itu pekerjaan hati bukan pekerjaan lisan. Jadi, meskipun lisan tidak mengucapkan, namun kalau hati sudah berniat, shaumnya sah.

Penulis singgung persoalan ini karena ada kasus seseorang tidak puasa karena tidak sempat membaca niat ( mengucapkan nawaitu ) pada malam harinya. Kerancuan ini muncul karena salah memahami niat. Ingat ! Niat itu tempatnya di hati bukan pada lisan. Saya menegaskan hal ini tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang suka melafazkannya.

2. Sahur

Kita dianjurkan untuk sahur walaupun hanya dengan seteguk air. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kekuatan pada tubuh dalam menjalani shaum pada siang hari. Rasulullah saw bersabda,“Bersahurlah kamu, karena sesungguhnya sahur itu berbarakah.” ( HR Bukhari – Muslim )

“Sahur itu berbarakah, maka lakukanlah walaupun hanya dengan seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat memberkahi orang-orang yang sahur.” ( HR Ahmad )

3. Imsak

Imsak artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan ( makan, minum, hubungan intim, dll ) dari terbit fajar ( waktu shubuh ) hingga terbenam matahari ( waktu maghrib ), sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,”Maka sekarang ( malam hari), boleh kamu mencampuri mereka ( istri ), … dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah shaum sampai malam.” ( QS. Al-Baqarah [2] : 187 ).

Yang dimaksud “nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar” adalah waktu shubuh. Artinya, pada malam hari kita diperbolehkan makan, minum, berhubungan intim, dll. Namun, saat waktu subuh tiba, semuanya harus dihentikan hingga datang waktu maghrib.

4. Menjauhi Kemaksiatan
Shaum merupakan latihan pengenalian nafsu. Orang yang shaum namun tidak mampu menjauhkan diri dari ucapan dan perbuatan maksiat ( bohong, gosip, dll ), maka nilai puasa orang tersebut akan berkurang, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Siapa yang tidak meninggalkan ucapan maksiat bahkan melakukannya, Allah tidak akan menghargai puasanya.” ( HR Bukhari )

5. Menyegerakan Ifthar ( berbuka )

Apabila adzan maghrib tiba, kita dianjurkan untuk menyegerakan ifthar ( berbuka puasa ). Rasulullah saw menyebutkan bahwa orang-orang yang menyegerakan ifthar senantiasa berada dalam kebaikan.“Orang-orang yang berpuasa senantiasa berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” ( HR Bukhari – Muslim )

6. Doa Berbuka Shaum

Ada sejumlah hadits tentang doa berbuka shaum. Silakan pilih mana yang paling Anda sukai.

Allahumma inni as-aluka birahmatikallati wai’at kulla syai’in an taghfira lii. “Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampiniku.” ( HR Ibnu Majah )

Dzahaba zhama-u wabtallatil ‘aruuqu wa tsabatal ajru insya Allah.“Dahaga telah hilang, tenggorokan sudah basah, insya Allah pahalanya tetap ( abadi )”(HR ad-Daruquthni)

Allahumma laka shumtu wa’ala rizqika afthartu. “Ya Allah, karena Engkaulah hamba shaum, dan atas rizki-Mu hamba berbuka.” ( HR Abu Daud )

Bismillahi allahumma laka shumtu wa’ala rizqika afthartu. “Dengan nama Allah, ya Allah, hanya karena-Mu aku shaum, dan atas rizki-Mu aku berbuka.” ( HR Thabrany )
 
Rukhshah ( Keringanan )

Shaum Ramadhan adalah kewajiban yang juga bersifat fisik. Kondisi fisik setiap orang berbeda-beda, karena itu Allah swt memberikan rukhshah ( keringanan ) kepada orang-orang tertentu untuk meninggalkan shaum dan menggantinya dengan qadha atau fidyah. Untuk memudahkan pemahaman, kita bagi orang-orang yang diperbolehkan berbuka pada tiga kelompok, yaitu :

Boleh Berbuka dan Wajib Qadha

Orang yang sedang dalam perjalanan ( safar ) dan orang sakit yang ada harapan sembuh diperbolehkan tidak shaum Ramadhan dan mereka wajib mengqadha shaumnya. Qadha artinya membayar shaum pada bulan yang lain.

“Barangsiapa di antaramu sakit atau bepergian ( lalu meninggalkan shaumnya, maka wajib shaum ) sebanyak hari itu pada hari-hari yang lain.” ( QS Al-Baqarah [2] : 185 )

Tidak ada keterangan rinci yang menjelaskan jarak safar yang menyebabkan boleh berbuka shaum. Hal ini dikembalikan pada kekuatan/kemampuan setiap individu. Sekiranya bepergian dalam keadaan shaum akan membahayakan fisik, sebaiknya berbuka, tidak perlu memaksakan diri, karena Allah swt telah memberi keringanan untuk berbuka. Namun, sekiranya tidak membahayakan, shaum lebih utama, sebagaimana firman-Nya, “… dan berpuasa lebih baik bagimu.” ( QS Al-Baqarah [2] : 184 )

Demikian juga tidak ada keterangan rinci mengenai ukuran sakit yang menyebabkan boleh berbuka. Hal ini dikembalikan pada kondisi tubuh. Sekiranya shaum dalam keadaan sakit akan menyebabkan semakin parah, sebaiknya berbuka.

Boleh Berbuka dan Wajib Fidyah

Fidyah, artinya memberi sejumlah makanan kepada fakir miskin sebesar yang biasa kita makan. Kalau dalam satu hari kita makan sekitar Rp. 10.000, kita berikan sejumlah itu juga kepada fakir miskin. Kalau kita tidak shaum sepuluh hari misalnya, maka kalikan saja sepuluh ribu dengan sepuluh hari. Demikian cara perhitungannya. Fidyah bisa diberikan per hari ataupun diakumulasikan dalam sebulan. Bisa diberikan langsung kepada fakir miskin ataupun dititipkan kepada lembaga penitipan zakat.

Siapakah yangwajib fidyah ? Laki-laki atau wanita yang sudah lanjut usia ( udzur ), wanita hamil, ibu yang sedang menyusui, para pekerja berat, orang sakit yang tidak ada harapan sembuh ( menahun ), diperbolehkan tidak shaum Ramadhan dan sebagai penggantinya harus memberikan fidyah.

“Dan bagi orang-orang yang berat mengerjakannya, kewajibannya adalah fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin.” ( QS Al-Baqarah [2] :184 )

Ayat ini tidak merinci siapa yang bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang berat mengerjakananya. Penjelasannya dapat kita lihat dalam hadits riwayat Abu Daud,”Rukhshah ( kelonggaran) bagi laki-laki maupun wanita yang lanjut usia – walaupun mereka sanggup shaum – untuk berbuka dan memberi makan untuk setiap harinya seorang yang miskin. Demikian pula yang hamil dan yang menyusui, jika mereka khawatir terhadap anaknya, boleh berbuka dan memberi makan.” ( HR Abu Daud )

Wajib Berbuka dan Wajib Qadha

Wanita yang sedang haidh atau nifas wajib berbuka atau dengan kata lain haram melaksanakan shaum. Kemudian harus menggantinya dengan qadha.

“Bukankah jika perempuan haid tidak shaum dan tidak shalat ?” ( HR Bukhari )

“Kami mendapat haid pada zaman Rasulullah saw kemudian bersih. Maka beliau menyuruh kami mengqadha shaum dan tidak menyuruh kami mengqadha shalat.” ( HR An-Nasa’i )


Meninggalkan Shaum tanpa Alasan

Bila seseorang sengaja meninggalkan shaum bukan karena sakit, safar, atau alasan lain yang dibenarkan agama, shaum yang ditinggalkannya tidak bisa diganti dengan qadha atau fidyah, tapi hanya bisa diganti dengan taubat kepada Allah swt ( mohon ampun atas segala kesalahan yang pernah diperbuat dan bersumpah tidak akan mengulanginya ).

“Barang siapa berbuka shaum Ramadhan tanpa rukhshah, juga tanpa sakit, tidak dapat mengqadhanya ( walaupun dengan shaum ) satu tahun sekalipun.” ( HRTirmidzi )
Amaliah Ramadhan

Ada sejumlah amaliah yang kuantitas dan kualitasnya ditingkatkan oleh Rasulullah saw pada bulan Ramadhan.

Alangkah baiknya kalau kita pun bisa meningkatkannya, karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan atau tidak.

Nah, mumpung masih diberi kesempatan, marilah kita tingkatkan amaliah berikut pada Ramadhan ini.

1. Meningkatkan Kedermawanan

Kita diperintahkan untuk ikut memikirkan, mencari jalan keluar , dan membantu saudara-saudara kita yang terpuruk. Rasulullah saw menjamin orang-orang yang suka menolong dan meringankan beban orang lain akan senantiasa diberi pertolongan-Nya.

“Siapa yang menolong kesusahan seorang Muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan menolongnya dari kesusahan-kesusahan akhirat. Siapa yang meringankan beban orang susah, niscaya Allah akan ringankan bebannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang Muslim, niscaya Allah akan tutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong orang lain.” ( HR Bukhari )

Kedermawanan pada bulan Ramadhan harus lebih ditingkatkan lagi, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw.

“Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” ( HR Bukhari )

2. Tadarus Al-Quran

“Malaikat Jibril biasa menemui Rasulullah saw setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu mudarasah Al-Quran.” ( HR Bukhari )

Mudarasah artinya menelaah Al-Quran, bukan sekedar membaca tapi ada unsur tahsin(memperbaiki bacaan) dan tadabbur ( membedah kandungan makna ). Ada anggapan yang beredar pada masyarakat kita, kalau dalam waktu satu bulan tidak bisa menamatkan bacaan Quran 30 juz, tadarusnya tidak sah, jadi sekiranya tidak akan tamat, sebaiknya tidak tadarus Quran karena akan sia-sia. Anggapan ini tidak benar , karena inti dari tadarus adalah memperbaiki bacaan dan pendalaman pemahaman, bukan target (harus tamat 30 juz). Jadi, kalau dalam satu bulan Ramadhan, kita hanya menyelesaikan 30 ayat, itu juga disebut tadarus.

Sebenarnya kita diperintahkan tadarus Quran bukan hanya pada bulan Ramadhan, namun setiap ada kesempatan kita dianjurkan membacanya secara rutin. Tadarus Quran disebut sebagai bagian amaliah Ramadhan agar kita lebih giat membacanya di bulan lainnya ■

Sabtu, 28 Juli 2012

lagi, hadits-hadits lemah seputar Ramadhan

Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Fiqh, 28 Oktober 2004, 05:15:09
Hadits-hadits dhaif yang tersebar seputra bulan Ramadhan
Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami, karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia, dan sebagai penegasan terhadap kebenaran, maka kami katakan:

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan sunnah Nabi secara adil, (untuk) memusnahkan penyimpangan orangorang sesat dari sunnah, dan mematahkan takwilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu Sunnah. Sejak bertahun-tahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits dhaif, dusta, diada-adakan atau lainnya. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna.

Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah- tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walaupun sedikit perhatianpun, wlaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan yang shahih yang menyingkap yang bathil. Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini, serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia, tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan mashyur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya, hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini –sangat disesalkan- menduduki kedudukan yang tinggi. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat…” (riwayat Bukhari 6/361), dan sabda beliau: “Agama itu nasehat…”(riwayat Muslim no.55)

Maka kami katakan wabillahi taufiq:

Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali, hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak- yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif. Semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya.” Jadikanlah imam ini sebagai suri tauladan kita, jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup) kita.

Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia pada bulan Ramadhan diantaranya:

1. “Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” Hingga akhir hadits ini.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul ‘Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas’ud Al Ghifari.

Hadits ini maudhu’ (palsu), penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan kelemahannya.” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu’aim, “Dia suka memalsukan hadits,” dan Bukhari, berkata, “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa’i, “matruk (ditinggalkan) haditsnya.”
Ibnul Jauzi menghulumi hadits ini sebagai hadits palsu, dan ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya, “Jika haditsnya shahih, karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al Bajali.”

2. “Wahai manusia, sungguh bulan yang agung twlah (menaungi) kalian, bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain…. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai.

Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178,b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al Musayyib dari Salman.

Hadits ini sanadnya dhaif, karena lemahnya Ali bin Zaid, berkata Ibnu Sa’ad, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya,” berkata Imam Ahmad bin Hanbal, “Tidak kuat,” berkata Ibnu Ma’in, “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah, “Lemah di segala penjuru,” dan berkata Ibnu Khuzaimah, “Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya.” Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323).

Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini, “Jika benar kabarnya.” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf, “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad’an, dan dia lemah,” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam’ul Jawami’ (no. 23714-tertib urutannya).

Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (1/249), “Hadits yang mungkar.”

3. “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma’ul Bahrain) dan Abu Nu’aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin

Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhair bin muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. Dan sanad hadits ini lemah. Berkata Abu Bakar Al Atsram, “Aku mendengar Imam Ahmad –dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin muhammad- berkata, “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair –pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam- pent) yang dhaif itu,” Ibnu Abi Hatim berkata, “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, karena jeleknya hafalan dia.” Al Ajalaiy berkata, “Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari ahli Syam ini tidak membuatku kagum,” demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/427).

Aku katakan: dan Muhammad bin Sulaiaman Syaami, biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaiman dinaskhkan oleh para Imam adalah mungkar, dan hadits ini darinya.

4. “Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut.”

Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu’allaq* dalam Shahih-nya (4/160 –Fathul Bari) tanpa sanad. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870), At Tirmidzi (723), Abu Daud (2397), Ibnu Majah (1672) dan Nasa’i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373), Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta’liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah.

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari (4/161): “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit: idhthirab (goncang), tidak diketahuinya keadaan Abil muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah.”

Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: “Jika khabarnya shahih, karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya sehingga hadits ini dhaif juga.”

Wa ba’du: Inilah empat hadits yang didhifkan oleh para ulama dan dilemahkan oleh para Imam, namun walaupun demikian kita (sering)mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya.

Tidak menutup kemungikinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar, yang sesuai dengan syari’at kita yang lurus baik dari Al Qur’an maupun Sunnah, akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah- umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Dengan sanad ini dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih dari yang jelek. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik orang yang menamainya (yakni Al Isnad) adalah: “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar.”

Mudah-mudahan Allah memberi rizki pada kami kebaikannya. Wahai saudaraku yang haus akan ketaatan kepada Allah, inilah sifat puasa Nabi dihadapanmu. Dan inilah petunjuknya dalam puasa Ramadhan, bersegeralah kepada kebaikan. Wasubhaanakallahu wa bihamdika, asyhadu anlaa ilaha illa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaika.

Ditulis oleh:
Penuntut Ilmu Syar’i
Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Saalim Al Hilali
25 Ramadhan 1403 H

(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab “HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN”. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia)

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=778

Malam Lailatul Qadar

Penulis: yaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Fiqh, 18 Oktober 2004, 05:19:43
Malam Lailatul Qadar
Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿۳﴾ تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾ [القدر: ١ - ٥]
(yang artinya) [1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴿۳﴾ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿٦﴾ [الدخان: ۳ - ٦]
(yang artinya) :
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS Ad Dukhoon: 3 - 6]

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).
Imam Syafi’I berkata : “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, dia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda : (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”. (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukari 4/221 dan Muslim 1165).

Ini menafsirkan sabdanya : (yang artinya) “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda : “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29,27,25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan, lima). (HR Bukhari 4/232).

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan

Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.

Kesimpulannya :
Jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, Ia berkata :
“Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata : “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan”.

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, Ya Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wassalam), Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?”. Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”. (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali.)

Saudaraku – semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.

Dari Aisyah Radiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).

Juga dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, (dia berkata) : “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).

4. Tanda-tandanya

Ketahuilah hamba yang taat – mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolongaNya – sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.

Dari Ubay Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda : (yang artinya) “Siapa diantara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata :”Dalam hadits ini ada isyarata bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)

Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thyalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).

(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab “Malam Lailatul Qadar”. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia)

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=757

SALAM SILATURRAHIM, SELAMAT BERKUNJUNG DI BLOG SAYA, SEMOGA KITA MENJADI INSAN BIJAK DENGAN BERBAGI ILMU PENGETAHUAN